Setelah CPO dan produk turunannya dari Indonesia mendapat pemotongan bea masuk, apakah importir Pakistan langsung memperbesar permintaan CPO ke Indonesia? Jawabannya, bisa ya atau tidak. Sebab, dari segi kualitas, minyak sawit mentah produksi Indonesia masih kalah dengan Malaysia.
Oleh: Qayuum Amri
“Dibanding Malaysia , terus terang saja CPO Indonesia memiliki beberapa kelemahan, terutama dari segi mutu,” ujar Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun kepada InfoSAWIT, pertengahan Juli 2008.
Derum menyebut alasannya. Pertama, kandungan free fatty acid (FFA) CPO Indonesia seringkali lebih tinggi dari persyaratan Pakistan. Kedua, angka dobi berada dibawah 2,5 sehingga membebani ongkos produksi industri refineri Pakistan. Dobi adalah bilangan penunjuk kerusakan minyak oleh oksidasi. Apabila angka dobi kurang dari 2,5, dipastikan rusak karena oksidasi. Masalah lainnya, berat CPO Indonesia kadang-kadang telah berkurang ketika tiba di Pakistan, berakibat merugikan importir Pakistan.
“Untuk masalah berat CPO, ada kemungkinan terdapat perbedaan berat jenis antara Indonesia dengan Pakistan. Semua kekurangan itu harus diperbaiki,” tukas Derom.
Tulisan ini dapat dibaca di Majalah InfoSAWIT Edisi Agustus 2008