Koyum’s Weblog

Juli 24, 2008

Pasar CPO Pakistan Kian Menarik

Diarsipkan di bawah: Berita — koyum @ 9:41 am
Tags: , , , , ,

Eksportir CPO Indonesia bersiap-siaplah mengoptimalkan pasar Pakistan. Pasalnya, pemerintah Pakistan akan menurunkan tarif impor CPO RI sehingga setara dengan Malaysia. Jika itu terwujud, pasar Pakistan bakal semakin menarik mengingat harga CPO Indonesia lebih kompetitif.

Oleh:Qayuum Amri

Sejak Januari 2008, komoditas minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya dari Malaysia memperoleh perlakuan khusus dari pemerintah Pakistan, yakni hanya dikenakan bea masuk sebesar 10%. Tidak pelak lagi, pasar CPO Pakistan dikuasai Malaysia, sementara Indonesia hanya kebagian 30%.

Berdasarkan data Pakistan Edible Oil Refineries Association (PEORA), Pakistan per Mei 2008 menyerap komoditas CPO dan RBD palm olein dari Indonesia sebanyak 215.543 ton, sedangkan produk dari Malaysia sudah dua kali lipatnya, yakni 499.002 ton.

Dibandingkan Malaysia, pemerintah Indonesia memang diakui terlambat berunding dengan Pakistan perihal “diskon” tarif impor CPO dan produk turunannya. Padahal, kedua negara sama-sama mengajukan permohonan sejak akhir 2007 ke Pakistan.

Dengan memakai kerangka perdagangan imbal balik atau preferential tariff agreement (PTA), Indonesia dengan Pakistan berkeinginan menerapkan barter alias trade off, yakni komoditas CPO dengan jeruk kino. Nantinya, jeruk kino Pakistan mendapatkan insentif berupa bebas bea masuk, sementara Pakistan memangkas tarif impor CPO Indonesia menjadi 10%.

Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun mengakui, Indonesia kalah cepat dengan Malaysia untuk urusan negosiasi potongan pajak ekspor CPO ke Pakistan. ”Mestinya PTA bisa dimaksimalkan,” ungkapnya.

Tapi, sebelum peluang itu sirna, perwakilan pengusaha kelapa sawit dan minyak makan Indonesia buru-buru bertandang ke negeri pimpinan Perdana Menteri Pervez Musharraf itu.

Pakistan pada 26 Juni 2008. Rombongan RI terdiri atas Derom Bangun (Gapki), Sahat Sinaga (GIMNI), Jhonny Virgo, Francis Xavier (PHS), serta Ibnu Prispermana (Charge d’ Affairs KBRI di Islamabad) dan Mustakim (Consul General KBRI di Karachi). Dalam pertemuan tersebut, rombongan diterima oleh Perdana Menteri Pakistan Syed Yousuf Raza Gillani, Menteri Keuangan Pakistan Naveed Qamar, dan pejabat tinggi Pakistas lainnya.

“Intinya, Perdana Menteri Pakistan menyetujui keinginan pengurangan bea impor CPO Indonesia asalkan jeruk kino diberikan kemudahan pula. Sekarang, tinggal menunggu negosiasi antar-pemerintah untuk dituangkan dalam keputusan bersama,” kata Derom yang menjadi juru bicara Indonesia dalam pertemuan tersebut.

Sementara itu, pejabat di Departemen Perdagangan mengakui, negosiasi menyangkut penurunan tarif impor CPO dengan pemerintah Pakistan masih berlangsung. “Tapi, prosesnya mungkin masih lama,” ungkap Hartojo Agus Tjahjono, Direktur Ekspor Produk Pertambangan dan Industri, Departemen Perdagangan (Depdag), kepada InfoSAWIT.

Lampu hijau datang dari Departemen Pertanian dengan keluarnya surat persetujuan memberikan insentif bagi jeruk kino bernomor 72/PD.320/M/3/2008 tertanggal 28 Maret 2008, kepada Departemen Perdagangan. Harapannya mempercepat trade off jeruk kino dengan CPO Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, tanpa adanya diskon tarif impor maka produk CPO Indonesia akan sulit bersaing. Contohnya, importir Pakistan lebih memilih RBD palm olein Malaysia karena mendapatkan selisih US$ 16,9/metrik ton dibandingkan membeli komoditas serupa dari Indonesia.

“Makanya, mereka (Malaysia) berani menjual RBD palm olein dan CPO di atas harga Indonesia,” ungkap Sahat.

Pasar Menggiurkan

Persaingan antara Malaysia dan Indonesia membuktikan bahwa negara ini menjanjikan keuntungan besar. Sebab, dengan populasi 156,77 juta jiwa, maka Pakistan membutuhkan minyak makan yang sangat besar, saat ini dan mendatang .

Tahun 2008, kebutuhan minyak makan Pakistan diprediksikan mencapai 3 juta ton, sementara suplai minyak makan domestik hanya sebanyak 0,6-0,8 juta ton. Tak heran, Pakistan memilih impor agar kebutuhan bahan baku industri refinerinya aman. Keseriusan Pakistan terlihat dari kucuran dana impor CPO dan minyak kedelai sebesar US$ 2 miliar, dengan perkiraan permintaan impor CPO sebanyak 1,8 juta ton dan 0,4 juta ton minyak kedelai.

Sayangnya, sepanjang tiga tahun terakhir Malaysia menguasai pasar CPO maupun RBD palm olein di Pakistan. Sebagai gambaran, ekspor CPO Indonesia sebesar 220.598 ton (52%) dan Malaysia sejumlah 206.814 (48%), lalu RBD Palm Olein asal Malaysia sejumlah 661.086 ton (51%) dan Indonesia berkisar 640.733 ton (49%).

Tahun 2007, Malaysia mulai menggeser posisi Indonesia untuk ekspor CPO ke Pakistan, buktinya CPO negeri jiran mencapai 268.082 ton (55%) dan Indonesia 215.385 ton (45%). Untuk RBD palm olein, Malaysia memasok 735.855 ton (54%) sedangkan Indonesia 625.879 ton (46%).

Rendahnya permintaan CPO dan produk turunannya dari Indonesia oleh Pakistan, menurut Sahat Sinaga, dipengaruhi pula pungutan ekspor (PE) CPO yang diterapkan pemerintah. ”Jadi, tahun ini Malaysia akan menguasai 75% pasokan RBD palm olein, sedangkan eksportir Indonesia hanya kebagian 25% saja,” kata Sahat.

Namun, Sahat maupun Derom Bangun optimistis jika Pakistan menurunkan bea masuk CPO RI menjadi 10%, maka CPO dan produk turunan Indonesia dapat bersaing dengan Malaysia. Untuk itu, diharapkan agar pemerintah lebih proaktif untuk mempercepat program barter CPO dengan jeruk kino dari Pakistan.

Tulisan ini dapat dibaca di Majalah InfoSAWIT Edisi Agustus 2008

1 Komentar »

  1. Salam sejahtera
    Semoga kita menyadari akan potensi Indonesaia yang sangat luar biasa. Kita punya lahan 50 jt ha lahan basah belum termasuk peternakan dan perikanan. Punya panjang pantai 81 rb km.
    Kebangkitan Indonesia diperkirakan berasal dari dunia agrokomplek. Namun hari ini Indonesia masih ketinggalan dalam hal K3 ( Kuantitas, Kualitas, Kelestarian. Dan ini ternyata mendapat titik terang yang signifikan.
    Mengapa saya katakan signifikan, karena parameter budidaya yang menyangkut K3 ini sudah mulai bisa di atasi.
    Sebagai contoh ril untuk kuantitas kelapa sawit Indonesia rata-rata hanya 14-15 kg per tandan. Tapi sekarang ini sudah bisa meningkat sampe 100% lebih. Di kalimantan 1 tandan ada yang 32 kg, begitu juga di sumatra ada yang lebih dari 32 kg.
    Dengan tulisan ini saya ingin mengajak kepada para pelaku Agribisnis yang ingin meningkatkan Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian. coba untuk mengaplikasikan teknologi bangsa sendiri dari PT. Natural Nusantara

    Untuk Info kami banyak VCD tentang Kesaksian Kelapa Sawit.
    hubungi saya:
    Halim di 085624193655

    Trim
    Mari kita wujudkan Indonesia makmur raya berkeadilan

    Komentar oleh Y. Nurhalim H — Agustus 17, 2008 @ 12:50 pm


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.