Koyum’s Weblog

November 5, 2008

Menggarap Bisnis CDM Sawit

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Kalau pabrik kelapa sawit Anda menyimpan limbah cair maupun padat dalam jumlah banyak, sebaiknya jangan didiamkan begitu saja. Siapa tahu dapat menjadi bahan baku bagi biomassa maupun biogas dalam proyek CDM. Supaya mudah, tak usah segan untuk melihat ataupun belajar pengembangan CDM dari para pelakunya.

Oleh: Qayuum Amri

Banyak manfaat belum tentu membuat tertarik orang, kondisi inilah yang sedang dihadapi proyek CDM di Indonesia. Walaupun ada berbagai macam keuntungan tetapi tidak mudah mengajak pelaku industri berpartisipasi di dalamnya . Tentu saja sektor industri pun tidak bisa disalahkan, mengingat tingkat kesulitan menerapkan CDM sangatlah tinggi. Makanya selama tiga tahun terakhir baru 74 proyek yang terdaftar di Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih (Komnas MPB). Itupun baru satu proyek mendapatkan persetujuan CERs, 19 teregristasi di UNFCC dan 44 mendapat persetujuan Komnas MPB.

Lalu sudah ada berapa perusahaan kelapa sawit yang meminati CDM? Dari data Komnas MPB terdapat 19 perusahaan kelapa sawit dari 27 proyek agroindustri (sawit, peternakan, karet, tapioka dan nanas) yang telah diajukan. Umumnya, pelaku usaha sawit memilih proyek biomassa dari limbah cair maupun kompos dari limbah padat untuk dijadikan proyek CDM. Dari biomassa pun, peserta CDM dapat memproduksi energi listrik serta bahan bakar bagi boilernya.

Sebagai contoh, PT Sawindo Kencana dan Listrindo Kencana berencana membangun pembangkit listrik tenaga limbah biomassa (tandan kosong dan cangkang sawit). Sawindo Kencana dengan pabrik kelapa sawit berkapasitas 60 ton per tahun dapat menghasilkan limbah biomassa sebesar 46 ribu ton/tahun.

Nantinya, perusahaan akan menghasilkan listrik sebesar 12MW untuk membantu kekurangan pasokan listrik PLN di Pulau Bangka. Proyek CDM listrik biomassa ini akan dibagi menjadi dua pembangkit listrik dengan kapasitas masing-masing 6MW. Apabila proyek ini jadi terealisasi, maka total suplai listrik di Pulau Bangka dapat mencapai 52 MW, karena selama ini PLN menghasilkan 40 MW. Melalui kerjasama kedua perusahaan nantinya PT Sawindo Kencana menjadi penyuplai bahan baku sementara PT Listrindo Kencana penghasil listriknya. Dari proyek CDM ini, perusahaan akan menghasilkan 76.104 ton CO2 per tahun, untuk jangka waktu 7 tahun ke depan.

Proyek CDM di industri kelapa sawit, menurut Agus Wahyudi, dapat mengerjakan berbagai macam tipe proyek energi terbarukan seperti biogas, biomassa, sistem hibrid dan limbah. Tentunya, ini bergantung kepada potensi limbah padat maupun cair serta tujuan dari pengembangan CDM di perusahaannya, sebab proyek ini bertujuan menciptakan industri zero waste atau bebas limbah demi pembangunan berkelanjutan.

Proyek Permata Hijau

Begitu pula dengan proyek CDM yang dilakukan PT Pelita Agung Industri, anak perusahaan Permata Hijau Group, yang berencana mengekstrasi gas metan (biogas) dari pengolahan limbah cair yang dihasilkan dari proses pengolahan kelapa sawit dengan sistem teknologi anaerobik digester. Proses singkatnya, limbah cair didinginkan terlebih dahulu untuk memicu proses pengasaman. Setelah itu POME akan difilter dan dipompa ke dalam tangki umpan sistem penguraian anaerobic. POME dari tangki umpan akan didistribusikan ke-4 unit tangki penguraian anaerobik sebagai pembangkit dan penangkap gas metan(CH4), proses selanjutnya akan dihasilkan biogas.

Manajer PT Pelita Agung Industri, Dodik Suyanto, mengatakan, proyek ini mulai dikembangkan semenjak 2006, dengan tujuan awal mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus memperoleh CERs. Diperkirakan proyek ini berpotensi menurunkan kurang lebih 2000 ton gas metan/tahun atau ekuivalen dengan gas karbondioksida sebanyak 42 ribu ton/tahun.

PT Pelita Agung Industri akan memanfaatkan biogasnya sebagai pengganti bahan bakar minyak solar yang biasanya digunakan dalam proses pembangkitan uap bagi keperluan produksi. Penggunaan biogas proyek ini dapat menghemat pemakaian minyak solar sebanyak 1.000 liter atau menghemat Rp 8,339 juta (1 liter = Rp 8.339). Itu setara dengan 3.000 ton gas CO2 per tahun.

“Untuk memudahkan pelaksanaan proyek, kami bekerjasama dengan Mitsubushi UFJ sebagai konsultan. Proyek ini membutuhkan setidaknya US$ 2 juta,” kata Dodik kepada InfoSAWIT.

Proyek Bahari Dwikencana

Selain berfungsi mengefisienkan kebutuhan energi, proyek CDM dapat digunakan untuk membuat pupuk kompos. PT Bahari Dwikencana Lestari, terletak di Kabupaten Aceh Tamiang, NAD, salah satu peserta CDM yang melakukan kegiatan pengelolaan limbah pada PKS melalui produksi kompos.

Proyek CDM tersebut mengaplikasikan teknologi buangan dan nihil limbah (zero discharge and zero waste) serta meningkatkan pemanfaatan residu dari PKS. Perusahaan mengoperasikan PKS berkapasitas proses 45 ton TBS per jam dengan waktu operasi 16 jam per hari dan 330 hari per tahun, maka total 5280 jam. Untuk setiap tahunnya, PKS memproses sekitar 237.800 ton TBS per tahun.

Selanjutnya, tandan buah kosong (TBK) yang akan dijadikan kompos, dihitung sekitar 22 persen dari total berat TBS yang diproses, berarti akan tersedia 52.272 ton TBK per tahun. Selain itu perusahaan juga akan memanfaatkan POME, yang selama ini lebih banyak dibuang melalui kolam anaerobik bertingkat. POME akan disemprotkan pada TBK yang sudah dicacah selama proses pengomposan untuk menjaga tingkat kelembaban. Kemudian, dilanjutkan dengan proses aerob dengan aerasi mekanik lewat pengawasan terhadap beberapa parameter kunci seperti tingkat oksigen di dasar tumpukan kompos, temperatur, dan kelembaban. Kompos yang terbentuk akan digunakan sebagai pupuk organik di perkebunan. Setiap tahunnya, perusahaan memperkirakan dapat mengurangi reduksi emisi 58.458 CO2 per tahun.

Meniru yang Berhasil

Masnellyarti Hilman mengungkapkan, banyaknya proyek CDM yang telah dijalankan, sebenarnya memudahkan setiap perusahaan kelapa sawit untuk mempraktikkan CDM. Untuk gampangnya, perusahaan dapat melihat metodologi proyek CDM yang telah dijalankan oleh perusahaan peserta CDM.

“Di China, itu biasanya perusahan melakukan cara ini sehingga banyak sekali proyek CDM disana. Biasanya calon peserta CDM tinggal mencontoh mereka yang berhasil mendapatkan CERs,” ujar dia.

Kalau mau lebih mudah, papar Masnellyarti Hilman lebih lanjut, pelaku industri sawit dapat membuka website Komnas MPB untuk mengetahui berbagai macam proyek CDM yang sedang dikembangkan.

Sejauh ini sudah ada dua industri mendapatkan registrasi dari Executive Board (EB), yakni PT Multimas Nabati Asahan dan Permata Hijau Group. Sementara 17 perusahaan sudah mendapat persetujuan dari Komnas MPB.

Nah, jika tak ingin gagal mengikuti proyek CDM, lebih baik belajar dari mereka yang sudah memulai. Atau enggan mengambil risiko, bekerjasama saja dengan konsultan CDM agar tak kecewa di kemudian hari. Selamat mencoba.

No Comments Yet »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.