Proyek clean development mecanisme (CDM) menjanjikan banyak keuntungan, tidak saja berupa pendapatan, melainkan pelaku sawit dapat mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan dan berkeberlanjutan. Tapi, penerapan CDM tak bisa serampangan, sebab dibutuhkan pengetahuan khusus plus dan berbiaya besar.
Oleh: Qayuum Amri
Bagi kalangan pelaku usaha perkebunan kelapa sawit, limbah cair pabrik kelapa sawit dapat menimbulkan masalah sosial dan lingkungan, karena menyebabkan pencemaran udara. Biasanya, sistem pengolahan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) menggunakan pola anaerobik dengan memanfaatkan kolam terbuka untuk menampungnya.
Selain POME, tandan buah segar (TBS) sawit yang diproses menjadi CPO, menghasilkan pula limbah cangkang dan serat. Dari penelitian Lacrousse, setiap 1 ton TBS menimbulkan limbah serat sebanyak 190 kg dan 230 kg limbah cangkang.
Hal sama dilakukan pula kepada limbah serat dan cangkang kosong yang terkadang dionggokkan begitu saja ataupun dibuang ke penampungan khusus. Padahal, limbah-limbah tersebut memiliki efek negatif karena menghasilkan gas metan dan karbondioksida (CO2) yang terbang bebas ke udara sehingga menimbulkan efek gas rumah kaca.
Berdasarkan data Ditjen Perkebunan Deptan, jumlah POME di Indonesia mencapai 32,257-37,633 juta ton, limbah tandan kosong sebesar 12,365 juta ton dan 10,215 juta ton cangkang & serat. Melihat besarnya limbah yang dihasilkan maka potensi lepasnya gas metan ke udara sangatlah besar. Oleh karena itu, kehadiran proyek CDM dapat membantu pebisnis sawit untuk mengurangi efek buruk dari limbah cair maupun limbah tandan kosong. Tak heran, sektor kehutanan dan pertanian menyimpan potensi karbon mencapai 140 juta ton CO2.
Lepasnya gas metan dari limbah cair dan limbat padat (serat, cangkang) berpeluang untuk diolah kembali melalui teknologi biomassa dan biogas.Menurut Country Manager PT AesAgri Verde Indonesia, Haskarlianus Pasang, gas metan dari limbah cair kelapa sawit dapat ditangkap dengan menutup kolam penampungan melalui plastik khusus. Biasanya gas metan ini dihancurkan lewat proses flaring menjadi karbon dioksida yang lebih ramah lingkungan. Salah satu manfaat lain gas metan adalah sumber bahan bakar dan listrik.
Country Director PT Ecosecurities Indonesia, Agus Sari, menambahkan, limbah cair dan limbah padat dapat diolah secara bersamaan menjadi pupuk kompos melalui proses aerobic. Limbah tandan kosong pun saat ini dapat digunakan menjadi sumber bahan bakar turbin.
Butuh Dana Rp 1,95 miliar
Tentunya dari berbagai macam pola CDM tersebut, perusahaan akan mendapatkan keuntungan finansial melalui pembayaran CER’s dari negara maju. Lalu seberapa besar investasi yang dibutuhkan oleh pelaku sawit untuk memulai proyek CDM? Carbon Finance memperkirakan, dibutuhkan dana sebesar € 150.000 atau Rp 1,95 miliar untuk pengembangan proyek CDM. Namun, rencana investasi CDM tak dapat dipukul rata, sebab akan bergantung besar kecilnya proyek maupun metodologinya.
Agus Sari mengatakan, modal proyek dapat mencapai Rp 10 miliar dengan pendapatan dari CERs Rp 20-Rp 25 miliar/tahun, artinya selisih keuntungan dapat mencapai Rp 10 miliar.
Sebagai gambaran, proyek penutupan kolam limbah cair skala kecil setidaknya dapat menahan 30 ribu ton karbon supaya tak terbang ke udara. Dengan asumsi, harga karbon di pasaran Eropa sebesar 24 € per ton karbon, tinggal kalikan saja 24 € x 30 ribu ton karbon maka pengusaha bisa memperoleh CERs 720 ribu € atau Rp 9,36 miliar ( 1€=Rp 13.000) per tahun.Tetapi ini asumsi perusahaan berinvestasi sendiri tanpa bantuan konsultan.
Peneliti Badan Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Siswanto,
Menjelaskan, pengembangan CDM kelapa sawit sangatlah besar, misalnya PKS berkapasitas 90 ton TBS per jam akan menghasilkan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sekitar 400-500 ton per hari. Dari TKKS tersebut dapat menghasilkan 250 ribu ton pupuk kompos per tahun. Dengan mengambil harga per ton karbon US$ 10 maka pendapatan dari CERs sebesar US$ 250 ribu atau Rp 23,7 miliar (US$ 1=Rp 9500). Sementara modalnya tak sampai Rp 10 miliar, atau paling tinggi sebesar Rp 5 miliar.
Tetapi lain ceritanya kalau bekerjasama dengan konsultan maupun membiayai CDM dari pinjaman lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia. Bisa jadi perusahaan memperoleh sedikit dari hasil penjualan CERs . Kalaupun menggunakan jasa konsultan berarti calon peserta CDM akan mengeluarkan biaya kembali untuk mendapatkan bantuan dalam mempersiapkan PDD, registrasi sampai mendapat CERs dan mencari pembeli. Tetapi jika menggunakan dana pinjaman maka semakin kecil pendapatan CERs perusahaan sawit, karena ada pembagian pendapatan dan tanggungjawab resiko oleh lembaga donor.
Haskarlianus Pasang, mengatakan bahwa konsultan CDM dapat berfungsi sebagai investor apabila sang klien tak memiliki cukup dana, terkadang dapat menjadi pembeli karbon pula. Dari sinilah, bagi hasil CERs akan ditentukan antara sang klien dengan konsultan, bergantung dari besar kecilnya resiko proyek CDM. Kalau makin besar berarti konsultan kemungkinan memperoleh bagian lebih banyak dibandingkan perusahaan.
Menurut Pengamat Lingkungan, Firdaus Cahyadi, risiko terbesar adalah gagalnya proyek dalam menyediakan kredit yang telah dibeli dimuka oleh investor. Selain itu risiko dipengaruhi pula negosiasi terbaru antar-negara maju dan negara berkembang (Protokol Kyoto), ketidakpastian harga karbon, bencana alam, stabilitas politik dan kebocoran proyek.
Banyak Manfaat
Ketua Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB) Masnellyarti Hilman menyebutkan, perusahaan akan memperoleh manfaat internal dan eksternal dari proyek CDM. Sebagai contoh citra positif perusahaan di mata masyarakat.
Tentu saja konteks proyek CDM tak hanya menyinggung ”duit” CERs saja melainkan dapat membantu perusahaan untuk memenuhi kebutuhan energi sebagai nilai tambah bagi perusahaan. Berdasarkan penelitian Siswanto di pabrik kelapa sawit PT Pinago Utama dengan kapasitas 90 ton TBS/jam, akan menghasilkan POME 1200 m3/hari menghasilkan biogas 28.800 m3/hari. Apabila biogas menjadi sumber listrik setara 36.000 kWh per hari atau sebagai bahan bakar sama dengan 20.160 L solar (Rp 111 juta). Artinya, kebutuhan energi pabrik sebesar 36.000 – 45.000 kWh/hari, akan dapat terpenuhi
Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) menyebutkan, TKKS bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar generator listrik. PKS berkapasitas 200.000 ton TBS/tahun, akan menghasilkan 44.000 ton TKKS (kadar air 65%) setiap tahun. Nilai kalori (heating value) TKKS kering adalah 18,8 MJ/kg, dengan efisiensi konversi energi sebesar 25%, dari energi tersebut ekuivalen dengan 2,3 MWe (megawatt-electric).
Manfaat terbesar lainnya, terjadi transfer teknologi dalam proyek CDM. Sebelum CDM ini muncul di Indonesia, perusahaan sawit membiarkan kolam limbah cair tanpa penutup, tetapi sekarang ada plastik mencegah keluarnya gas metan dari kolam sekaligus menghilangkan bau limbahnya. Selain, adanya benefit dari subtitusi sumber energi yang dapat menghemat pengeluaran perusahaan. Melihat multimanfaat proyek CDM, kini tinggal berpulang ke pelaku usaha sawit, apakah mau mengimplementasikan CDM atau tidak.